Penyakit menular masih merupakan penyakit penyumbang angka kesakitan dan kematian tertinggi di Indonesia demikian juga untuk Kota Tanjungpinang. Status ekonomi masyarakat yang masih belum merata, tingkat pendidikan dan pengetahuan yang belum tinggi, personal higiene yang belum di terapkan pada masing-masing individu dan kesehatan lingkungan yang belum memadai marupakan salah satu faktor masih tingginya angka kesakitan akibat penyakit menular di Indonesia.

DBD termasuk diantara penyakit-penyakit berpotensi wabah sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang No. 4 Tahun  1984 Tentang Wabah dan Permenkes RI No 1501/Menkes/Per/X/2010 Tentang Jenis Penyakit Menular Tertentu Yang Dapat Menimbulkan Wabah.

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah karena Kota Tanjungpinang merupakan daerah endemis dimana kasus demam berdarah masih ditemukan sepanjang tahun. Target Nasional untuk daerah endemis adalah kurang dari 54 kasus per 100.000 penduduk. Sehingga di Kota Tanjungpinang idealnya terdapat kurang dari 118 kasus DBD setiap tahunnya.

Perkembangan penyakit DBD di Kota  Tanjungpinang tiap tahun belum menunjukkan penurunan yang berarti, data kasus DBD pada tahun 2014 sebesar 559 jiwa, tahun 2015 sebesar 358 dan tahun 2016 tercatat 308 penderita. Dengan angka kesakitan DBD (IR) pada tahun 2016 sebesar 122,47 sedangkan target nasional adalah 54/100.000 penduduk,ini menunjukkan bahwa kasus DBD masih sangat tinggi, dan Kota Tanjungpinang pernah mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD pada tahun 2008.

Berbagai upaya pengendalian penyebaran penyakit DBD dan menekan populasi jumlah nyamuk telah dilakukan diantaranya melalui kegiatan pengasapan (fogging), Abatesasi selektif, Juru Pemantau Jentik kelurahan (JUMANTIK) dan gerakan PSN serentak melalui gerakan 3M setiap hari tertentu.

Peran serta dan pemberdayaan masyarakat dalam pengendalian penyakit DBD dilakukan dengan cara membentuk dan mengaktifkan Juru Pemantau Jentik (Jumantik). Saat ini Kota Tanjungpinang memiliki 41 kader jumantik yang tersebar di 18 kelurahan se Kota Tanjungpinang.

Program gerakan satu rumah satu jumantik dalam rumah tangga pertama kali dicanangkan oleh Bapak Walikota di Terminal Sei Carang pada tanggal 14 Februari 2016 yang dihadiri oleh seluruh perwakilan dari kelurahan, kecamatan, SKPD,  mahasiswa kesehatan dari berbagai jurusan, kader-kader kesehatan serta pemuka masyarakat.

Adapun gerakan satu rumah satu jumantik adalah dimana setiap rumah harus memiliki satu orang dalam rumah tersebut sebagai pemeriksa dan pemantau jentik serta menerapkan prilaku hidup bersih dan sehat termasuk didalamnya sebagai duta lingkungan sehat untuk memberikan edukasi dan memberi contoh bagi seluruh penghuni rumah yang bersangkutan terutama dalam upaya PSN melalui gerakan 3M.

Upaya ini telah menunjukkan hasil dalam upaya pengendalian penyakit DBD di Kota Tanjungpinang, dimana data penyebaran penyakit DBD menunjukkan tren penurunan sejak dilakukan pencanangan tersebut hingga bulan September ini jumlah penderita DBD hanya 59 orang yang menunjukkan angka penurunan sebesar 80% dibandingkan dengan data tahun lalu. Dengan Angka Kesakitan DBD (IR) sebesar 22,83 yang berarti sudah berada di bawah angka nasional. mudah-mudahan hal ini dapat dipertahankan hingga tahun-tahun berikutnya.

Untuk itu, kami mengajak seluruh masyarakat Kota Tanjungpinang untuk dapat meningkatkan kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk melalui program Satu Rumah Satu Jumantik, sehingga penyakit DBD tidak menjadi masalah di Kota Tanjungpinang kedepannya.

Ayoo !! Basmi Jentik...